• gambar
  • gambar

WELCOME TO THE SCHOOL OF CHAMPIONS - SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH SUCI RAMADHLAN 1446 HIJRIAH

Pencarian

Kontak Kami


SMP NEGERI 2 MAJENANG

NPSN : 20300522

Jl.Bhayangkara No.38 & 39 Majenang Kab.Cilacap 53257


info@smpduamajenang.sch.id

TLP : (0280) 621202


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 157661
Pengunjung : 74893
Hari ini : 24
Hits hari ini : 41
Member Online : 9
IP : 216.73.216.44
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

  • MURSIH, S.Pd. (Guru)
    2020-04-10 07:49:43

    Semoga situasi segera membaik. Sudah berapa lama kita kerja dari rumah? Dan kita belum tahu sampai kapan?
  • MURSIH, S.Pd. (Guru)
    2020-04-02 12:40:41

    Masihkah ingat permen nano- nano? Rame rasanya
  • MURSIH, S.Pd. (Guru)
    2020-03-27 11:41:38

    Bagaimana caranya saya bisa seperti teman-teman yang lain memulai pembelajaran dengan menggunakan Google classroom?
  • Hj. SITI NURROHMAH, S.Pd. (Guru)
    2020-03-25 11:37:25

    Assalamu'alaikum, semoga semua dalam lindungan Allah, tetap bersemangat
  • MURSIH, S.Pd. (Guru)
    2020-03-25 05:39:23

    Aku merindukan seseorang
  • DYAN PRASTUTI, S.Pd. (Guru)
    2020-03-24 20:47:43

    Badai pasti berlalu,stay at home,study at home and stay safe ya semua
  • MURSIH, S.Pd. (Guru)
    2020-03-24 10:20:00

    Lindungi kami Ya Allah.

Peran Guru BK dalam Mengatasi Bullying di Sekolah




Sekolah merupakan salah satu institusi yang menjadi ujung tombak keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik sehingga menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang bertanggungjawab (UU No. 20 tahun 2003: Pasal 3). Untuk bisa mewujudkan itu, tentunya banyak faktor yang mempengaruhi kelancaran pelaksanaan program pendidikan di sekolah. Apalagi sekolah sebagai wadah yang menampung beragam peserta didik dari berbagai latar belakang berbeda, hal ini memungkinkan mereka membawa berbagai permasalahan ke sekolah yang akan mengganggu kegiatan belajarnya. Salah satu permasalahan di kalangan pelajar yang marak terjadi hampir di setiap sekolah yakni perilaku bullying.

Bullying merupakan istilah untuk tindakan kekerasan atau penindasan yang dilakukan oleh pihak yang lebih kuat baik dari segi umur, kekuatan, kekuasaan kepada pihak yang lemah. Bentuk dari perilaku bullying yaitu bullying fisik, bullying verbal dan bullying mental/psikologis yang dapat ber dampak buruk kepada korbannya, seperti lebam, luka, sakit, penakut, dan lain sebagainya dan untuk jangka panjang yaitu terganggunya kondisi psikologis dan penyesuaian sosial yang buruk. Data yang didapatkan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di tahun 2018, ditemukan kasus dibidang pendidikan sebanyak 161 kasus, 36 (22,4%) merupakan kasus dengan anak korban kekerasan dan bullying, sedangkan kasus anak pelaku kekerasan dan bullying sebanyak 41 (25,5%) (Eliasa, 2017).

Secara umum, bullying dapat dikelompokkan pada tiga kategori yaitu, (1) Bullying fisik contohnya memukul; menampar; mencubit; atau memalak. (2) Bullying verbal contohnya memaki; menggosip; atau mengejek., dan (3) Bullying mental/psikologis contohnya mengintimidasi; mengabaikan dan tindakan diskriminatif. (Yayasan Semai Jiwa Insani, 2008).  

Ada beberapa faktor penyebab terjadinya bullying di sekolah yaitu (1) perilaku bullying merupakan tradisi turun-temurun dari senior (senioritas), (2) balas dendam karena dulu pernah diperlakukan sama, (3) ingin menunjukkan kekuasaan, (4) marah karena korban tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan, (5) mendapatkan kepuasan (Riauskina dkk, 2005).

Pelaku akan merasa senang ketika melihat korban menderita. Bullying tidak terjadi hanya sekali, pelaku dan korban mengetahui bahwa tindakan bullying itu bisa terjadi berulang-ulang, tanpa henti dan semakin meningkat, jika semua hal itu terjadi maka akan muncul teror. Tindakan bullying mempunyai tiga karakteristik yaitu: (1) adanya perilaku agresi yang menyenangkan pelaku untuk menyakiti korban, (2) tindakan itu dilakukan secara tidak seimbang sehingga menimbulkan rasa tertekan pada korban, dan (3) perilaku itu dilakukan secara berulang dan terus-menerus (Rigby dalam Astuti, 2008:4)

Menurut Soendjojo (www.tabloid-nakita.com) ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa menjadi korban bullying yaitu siswa yang belum mampu bersikap assertive sehingga mereka tidak dapat menolak saat diperlakukan negatif, karena ketidakmampuan mereka merespon perilaku bullying. Berdasarkan penelitian Bernstein dan Waston pada tahun 1997 (dalam Rudi, 2010), disimpulkan bahwa karakteristik eksternal korban sasaran tindakan bullying adalah anak yang cenderung lebih kecil atau lebih lemah daripada teman sebayanya.

Salah satu dampak bullying yang paling jelas terlihat adalah kesehatan fisik, seperti luka, lebam, pusing,  sakit dada dan bahkan kematian. Dampak lain yang kurang terlihat, namun memiliki efek jangka panjang yaitu terganggunya kondisi psikologis dan penyesuaian sosial yang buruk. Gejala-Gejala dampak dari perilaku bullying yaitu, (1) takut untuk sekolah (school phobia), (2) motivasi berprestasi turun, (3) merasa cemas, (4) konsentrasi anak berkurang, (5) konsep diri rendah, (Yayasan Semai Jiwa Insani, 2008).

Guru BK memiliki peranan penting dalam mencegah dan menanggulangi bullying di sekolah, untuk itu diperlukan pelayanan yang efisien dan komprehensif kepada seluruh siswa dengan menggunakan berbagai keterampilan dan media. Adapun langkah yang bisa dilakukan guru BK antara lain : (1) Memberikan edukasi dan sosialisasi kepada para siswa akan bahaya dan cara mencegah perilaku bullying yang bisa dilakukan dengan layanan informasi berupa bimbingan klasikal. (2) Melaksanakan layanan konseling individu / kelompok kepada siswa yang menjadi pelaku bullying untuk menggali lebih dalam apa yang melatarbelakangi melakukan perilaku tersebut sehingga guru BK bisa mengambil tindakan yang tepat. (3) Melaksanakan layanan advokasi yaitu pemberian bantuan oleh Guru BK kepada siswa yang menjadi korban bullying agar kembali mendapatkan haknya yakni bisa menjalani aktivitas di sekolah secara aman dan nyaman. (4) Kemudian melaksanakan layanan mediasi yaitu layanan yang dilakukan oleh Guru BK terhadap dua pihak yang sedang mengalami permasalahan yakni pelaku dan korban bullying untuk didamaikan dan dicari jalan keluarnya. (Prayitno, 2009:45). (5) Guru BK juga bisa membuat media berupa modul/leaflet/booklet/poster untuk pencegahan perilaku bullying di sekolah, membuat model konseling untuk korban bullying, membuat kegiatan konseling teman sebaya, dan lain sebagainya. (Olweus dkk dalam Amirah Diniaty, 2012:149)

 

 

Daftar pustaka

 

Yandri, Hengki. Peran Guru BK/Konselor dalam Pencegahan Tindakan Bullying di Sekolah. STKIP PGRI Sumatera Bara.

Amirah Diniyati. 2012. Bullying Versus Tantrum sebagai Perilaku Agresif pada Anak dan Aplikasi Konseling dalam Mengatasinya. Prosiding Seminar Internasional Bimbingan dan Konseling. Padang, 14 Januari 2012.

Astuti, R. P. 2008. Meredam Bullying (3 Cara Efektif Mengatasi Kekerasan pada Anak). Jakarta: Grasindo.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :





   Kembali ke Atas